Midnight Academy
Selamat Datang Di MA Dimana Kamu Main RPG Berbasis Battle, School, etc, games, dan lain-lain Segera Lah Register Kalau Guest Dan patuhi aturan, jangan sungkan ikutan Gabung

Administrator Team


Welcome to Midnight Academy
 
HomeNewsCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Midnight Academy
Forum AgoessNaruto ● Forum Diskusi Naruto
Tempat untuk para maniak Naruto
Paradox academy.
Mirai Academy
Public School, Official RPF
Animanga Indonesia Fan
Control Panel

Guest profile

Information

Preference

Signature

Avatar

Social

Friends and Foes

Memberlist

Groups

Private messages

Inbox

PM sent

Other

Topic is being watched

Switch account:



Share | 
 

 Pair Drabbles

Go down 
AuthorMessage
Tsu
Special Admin
Special Admin
avatar

Member Title : Kurutte hey kids!
Jumlah posting : 400
Join date : 2013-11-08
Age : 23

PostSubject: Pair Drabbles   Mon Feb 01, 2016 1:03 pm

NanasexRin (Free!)—Hypocrite

"Haruka—kau kejam!"
"A—apa boleh buat—hari ini ada ujian.."

Rin tampak memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kesal, sementara Haruka berusaha menenangkan sang kekasih yang sedang ngambek. Rencananya, hari ini mereka akan jalan-jalan setelah pulang sekolah, tapi karena besok ada ujian yang penting, Haruka terpaksa membatalkan janjinya.

"Dasar munafik—kalau tidak bisa janji, kenapa baru bilang sekarang... kenapa tidak dari kemarin?" Rin kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Tau, deh. Terserah! Kita putus!"

Brak, pintu rumah Haruka dibanting oleh Rin. Sementara Haruka mematung. Sebelum beberapa detik kemudian berjalan ke arah kamarnya dengan kesal.

"Tch—ujian sialan..." gumamnya sembari meletakkan buku paket Biologi di atas meja belajarnya, dan mulai membaca. Setelah 15 menit membaca, ia meraih ponselnya di saku dan mengetikkan suatu nomor.

"—Makoto? Ini aku."

•••

"AHAHAHAHAHA!" Makoto tampak tertawa puas sembari memukul-mukul meja di restoran tersebut. Haruka menatapnya dingin. Sebelum berubah menjadi tatapan marah. "Hei, kenapa malah tertawa!? Ayolah, kau 'kan sahabatku. Kenapa kau tidak menanggapi curhatanku dengan solusi!?" teriak Haruka. Makoto mengangkat kedua tangan setinggi dada. "Oke, oke—akan kujawab! Tapi kau tenang dulu."

Haruka menghela napas. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "—aku mendengarkan," ucapnya. Makoto memasang senyum simpul. "Baiklah, ini masalah yang sedikit sulit—tapi, kesalahan ada pada kalian berdua. Terutama kamu. Perjanjian itu tidak boleh dibuat kalau ada halangannya, dan halangan tersebut sudah diketahui oleh sang pembuat." jelas Makoto.

"—lalu, soal Rin. Salahnya juga karena terlalu serius dalam menanggapi sesuatu—tepatnya, mudah sekali ngambek. Bukan tipe yang bisa kau hadapi, tapi tenang saja. Lakukan hal-hal yang kusebutkan..."

•••

Ketukan pelan terdengar di pintu rumah Rin. Rin yang sedang membaca majalah dengan cepat berjalan ke arah pintu, ketika ia membukanya—ia disambut dengan mawar merah. Tentu saja, yang dipegang oleh Haruka.

"—maafkan aku.. aku telah melanggar janjiku padamu," mawar itu diberikan. "Karena itu. Besok setelah pulang sekolah, kita akan pergi ke tempat yang kau suka, sampai tengah malam sekalipun. Dan nanti, ketika liburan musim panas—aku... akan mengajakmu keliling dunia."

Rin tersenyum senang. Dengan cepat diterimanya buket bunga itu, dan dengan segera dipeluknya Haruka.

Namun, setelah itu, Haruka berucap..

"Yang terakhir itu kubohongi."
Back to top Go down
View user profile
Tsu
Special Admin
Special Admin
avatar

Member Title : Kurutte hey kids!
Jumlah posting : 400
Join date : 2013-11-08
Age : 23

PostSubject: Re: Pair Drabbles   Sat Jun 09, 2018 6:09 pm

KazumaxHiyori (Noragami)—Now's Not The Time
Kazuma, seorang siswa SMA yang bekerja part-time di sebuah toko buku pinggir kota. Sementara Hiyori adalah seorang siswa SMA yang sangat menggemari novel. Takdir membawa mereka untuk bertemu di satu tempat yang sama, membuat mereka mulai tertarik satu sama lain kemudian menjalin hubungan seperti sekarang ini.

Kazuma adalah sosok yang tegas dan serius, sementara Hiyori sebaliknya (biarpun ia cukup pendiam untuk gadis seusianya). Sifat yang saling bertolak-belakang kadangkala membuat permasalahan dalam hubungan mereka, tapi kalau dipantau dari sisi lainnya hubungan mereka merupakan hubungan solid yang tidak mudah terputus.

Masalahnya ada di Hiyori. Kazuma cukup sibuk karena ia berada di tahun ketiganya, dan ia nyaris tidak punya waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk Hiyori. Sementara Hiyori, sebagai siswi yang baru menginjak tahun pertamanya, masih cukup labil sehingga ia ingin segala macam keinginannya terpenuhi. Termasuk, jalan-jalan berdua, liburan berdua, dan sebagainya yang hanya bisa mereka lakukan berdua.

Hal itu membuat hubungan mereka agak renggang. Kazuma mulai sering jengkel pada Hiyori yang tidak bisa mengerti kondisinya—lebih tepatnya tidak mau mengerti, kemudian Hiyori mulai tertarik dengan teman masa kecilnya, Yato. Hiyori, saat Kazuma tidak ada, akan menemui Yato dan menghabiskan waktu berduaan saja dengannya.

Perasaan Hiyori mengembang dari sekedar tertarik hingga menjadi suka, sedangkan Kazuma tidak tahu-menahu tentang itu dan sibuk belajar demi ujian masuk perguruan tinggi.

Akhirnya ujian Kazuma berlalu. Kazuma langsung mengajak Hiyori ke coffee shop, tempat favorit Hiyori untuk kencan.

Namun—

.
.
.

Kazuma memandangi koleksi baju yang tergantung di lemari pakaiannya, sesekali melirik ke arah jam dinding rumahnya.

Ia tersenyum dalam hati. Hari ini ia bisa bebas dari belajarnya, dan bisa bersama Hiyori selama mungkin. Selain itu, ia juga berulang tahun hari ini, ia harap Hiyori ingat dan memberikannya kado.

Kado dari Hiyori, meskipun sederhana, selalu bisa membuat Kazuma tersenyum senang. Entah kenapa—biarpun kado yang diterimanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Misalnya tahun lalu, Hiyori memberinya syal rajutan sendiri padahal ia menginginkan saputangan. Hari ini... entah apa yang akan diberikan Hiyori.

Senyumnya mengembang tanpa diperintah. Matanya masih berkutat di lemari baju dan jam dinding.

"Hiyori selalu melihatku mengenakan baju kerja maupun seragam. Dan itu tidak bagus," ia menggeleng sambil mendesah berat. "Barangkali aku harus pakai baju favoritku, dan sayangnya—"

Kazuma tidak menggumam lagi. Lemarinya penuh dengan kemeja dan beberapa piyama tidur, kemudian celemek dengan sulaman nama tempat kerjanya di bagian tengah dan celana jins.

Kabar bagusnya, ia seorang workaholic. Kabar buruknya, ia bukan orang yang bisa diajak jalan-jalan.

Hiyori pernah berkata ia terlihat tampan biarpun sedang dibalut kemeja dan seragam kerja, tapi—sigh.

Ia mengambil satu kemeja dan satu celana jins, meletakkannya di atas ranjang. Kemudian ia berjalan pelan ke arah kamar mandi, melepaskan seragam sekolah yang dikenakannya, kemudian berdiri di bawah shower.

Ia hanya butuh waktu tiga menit untuk mandi. Selesai mandi, ia mengenakan pakaian yang tadi sudah dipilihnya kemudian menyisir rambutnya yang masih agak basah.

Sudah selesai dengan urusan pakaian, ia menyemprotkan parfum favoritnya dan mengenakan jam tangan berwarna dark ash miliknya di pergelangan tangan kiri.

Ia siap.

.
.
.

"—jadi, begitulah. Anak kecil itu terjatuh ketika sedang berusaha mengambil uang koin 5 Yen!"

Yato tertawa, kemudian Hiyori ikut tertawa biarpun ia tidak mengerti dimana lucunya itu.

Tawaan Yato memiliki efek menular, rupanya. Siapapun yang melihatnya tertawa—atau mendengarnya tertawa—pasti ikut tertawa. Hiyori sendiri pun cukup heran. Apakah Yato memakai ilmu sihir atau semacamnya?

Dan sayangnya, setiap tawaan lebar itu muncul di hadapannya, Hiyori makin jatuh cinta—ia tak bisa menyangkal itu.

Mereka ada di coffee shop, tempat Hiyori dan Kazuma ingin kencan. Hiyori datang kemari tiga puluh menit lebih awal daripada yang dijanjikan karena ia ingin sekali berduaan dengan Yato di tempat favoritnya. Kalaupun Kazuma tiba-tiba memergoki mereka sedang berduaan, Hiyori tak peduli—toh ia tak menyayangi Kazuma lagi. Salahnya sendiri mengabaikan Hiyori.

Ini tidak boleh, tapi sejujurnya Hiyori ingin sekali melihat wajah tampan Kazuma kala ia putus asa. Ia ingin sekali melihatnya. Terlebih kalau alasannya putus asa adalah karena ia menyadari betapa salah kelakuannya pada Hiyori selama ia mengikuti tes masuk.

Tidak, ia tidak dendam pada Kazuma gara-gara diabaikan akibat belajar untuk tes masuk. Selama ini ia selalu menyemangati Kazuma. Ia mengajak Kazuma jalan-jalan lebih sering daripada biasanya menjelang tes masuk agar Kazuma bisa lebih rileks. Kazuma tipe pekerja keras dan keras kepala, ia bisa tidak tidur dan tidak istirahat seharian penuh gara-gara konsentrasi belajar.

Tapi, Kazuma tidak mengerti. Kazuma menganggap itu semua mengganggu, dan ia malah berakhir mengomeli Hiyori dan pulang dengan kesal gara-gara Hiyori menyita waktunya untuk belajar.

"Tes masuk?" Hiyori bergumam pelan sambil mengunyah parfait. "Kazuma yang kukenal selama ini takkan panik hanya gara-gara tes masuk perguruan tinggi."

"Memikirkan Kazuma lagi?" tanya Yato, dan lamunan Hiyori buyar gara-gara itu. Mata Hiyori langsung berfokus pada Yato, dan ia ingin memberi jawaban—tapi Yato tidak memberinya kesempatan. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan terlalu keras. Toh kalian akan bertemu hari ini, dan aku yakin kalian berdua akan kembali seperti biasa."

"Kazuma tidak mengerti aku," Hiyori menimpali. "aku selama ini berusaha menghiburnya. Aku selalu menyemangatinya, hanya saja ia tidak mengerti caraku melakukannya. Aku tak salah, dialah yang tak mau mengerti apa arti... dari semua yang telah kuperjuangkan untuknya,"

Air mata Hiyori perlahan mengalir turun. Cepat-cepat ia menghapusnya dengan punggung tangan. Saat ia memandang Yato lagi, Yato tengah memandangnya dengan kening mengkerut dan mata sedih.

"Haha," Hiyori tertawa. Tawanya singkat, pahit. Tidak ada humor sedikitpun. "Aku menyedihkan, ya kan? Aku benar-benar—"

Tiba-tiba, Yato mencondongkan badannya ke depan, kemudian menciumnya.

Ia diam saat bibirnya dan bibir Yato bertemu. Saat ia sadar apa yang sudah terjadi, jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat. Saat itu terjadi, ia langsung membalas ciuman dari Yato.

Beruntung tidak ada begitu banyak orang di kafe hari ini, dan meja yang mereka berdua duduki berada di tempat yang agak tersembunyi—jadi kemungkinan besar orang yang berlalu-lalang takkan melihat mereka berciuman.

Yato melepas ciumannya, memandangi Hiyori untuk beberapa saat.

Jemari Hiyori menyusuri kedua belah pipi Yato pelan, kemudian ia menarik wajah Yato dengan lembut mendekati wajahnya.

Bibir mereka berdua kembali bertaut, kali ini lebih lama.

Yato melepaskan ciuman mereka berdua. Ia memandang ke arah Hiyori dengan pandangan terluka. "Kau tahu, Hiyori—aku mencintaimu," katanya, nyaris berbisik. "Aku mencintaimu," ulangnya kembalj. "Tolong jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis, apalagi kalau gara-gara seorang pria."

Hiyori tersenyum. "Iya," katanya pelan. Mendengar itu, Yato tersenyum samar. Yato setelah itu mengelus pelan pipi Hiyori menggunakan jempolnya.

"Yato—aku juga mencintaimu."

.
.
.

Kazuma akhirnya datang. Saat itu, Hiyori sedang membaca novel tebal yang ditaruh di atas meja dengan serius. Tampak sekali kalau ia tidak menyadari kehadiran Kazuma yang kini sedang berdiri di sampingnya.

"Ehem," Kazuma berdehem agar ia mendapat perhatian Hiyori. Sesuai perkiraannya, Hiyori terlompat kaget, kemudian langsung mendongak memandangi Kazuma—yang kini sedang tersenyum ceria.

Hiyori tersenyum. "Ya ampun, Kazuma!" Kazuma tertawa ringan, lalu duduk di depan Hiyori.

"Maafkan aku. Lama menungguku?"

Hiyori menutup novel bacaannya, meletakkannya kembali di dalam tasnya. "Yah~ tidak lama. Aku baru saja tiba," ia merasa bersalah karena telah bohong pada Kazuma, tapi Kazuma tampaknya melontarkan pertanyaan itu hanya untuk basa-basi, jadi ia tak tahu apakah ia bersalah atau tidak. "Jadi, bagaimana ujian masukmu?"

"Tidak buruk. Aku sudah menghafalkan apa yang kuperlukan, dan aku cukup percaya diri kalau hasilku bakal bagus."

"Wah, hebat."

Kazuma tersenyum.

"Kau terlihat cantik hari ini."

Berhubung sedang musim panas, Hiyori hanya mengenakan seragam dengan lengan sepanjang siku dan rok sepanjang lutut. Kazuma terbiasa melihatnya mengenakan baju berlengan panjang hingga menutupi pergelangan tangan, wajar saja kalau Kazuma merasa Hiyori berbeda.

"Kau pikir begitu?" Hiyori tersenyum, dan Kazuma mengangguk.

"Oh, kita perlu pesan." Kazuma hendak bergerak memanggil pelayan, tapi—

"Kazuma."

"Hm?" Kazuma menoleh, ia memandang Hiyori. "Ada apa?"

Hiyori berdiri, hingga kursi yang didudukinya sedikit tergeser mundur karenanya.

"Aku ingin kita putus."

Kazuma langsung memandang Hiyori tidak percaya. Ada apa ini? Rasanya mereka tadi baru saja bercanda, memuji satu sama lain, dan sebagainya. Tapi, kenapa pada akhirnya Hiyori ingin mereka putus?

"Tunggu, Hiyori. Jelaskan dulu—"

"Tak ada yang perlu dijelaskan. Aku lelah dengan hubungan kita berdua."

"Hiyori—"

"Singkatnya... yah, kurasa kita sama sekali tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Maaf, Kazuma, tapi kupikir hubungan kita hanya sampai sini."

"Hiyo—"

"Aku sudah mencintai orang lain."

Kazuma bungkam. Bibirnya terkatup rapat, matanya yang tadinya memandang Hiyori tidak percaya berangsur-angsur memandang Hiyori heran.

"Apa itu cukup? Kalau cukup, aku pergi. Terimakasih sudah mau datang kemari."

Hiyori bergerak mengambil tasnya, kemudian berjalan hingga memunggungi Kazuma. Tidak seberapa jauh hingga Kazuma memanggil namanya kembali.

"Hiyori, apa kau ingat?"

Hiyori diam sebentar, lalu ia menengok dengan pelan.

"Ada apa?"

Dengan ekspresi terluka, Kazuma menjawab, "hari ini hari ulang tahunku."

"...selamat ulang tahun."

—dan begitu saja. Hiyori pergi, meninggalkan Kazuma sendirian.
Back to top Go down
View user profile
Tsu
Special Admin
Special Admin
avatar

Member Title : Kurutte hey kids!
Jumlah posting : 400
Join date : 2013-11-08
Age : 23

PostSubject: Re: Pair Drabbles   Sun Jun 10, 2018 4:41 am

Kazuma pulang setelah minum segelas Americano.

Akhirnya, ia pulang dengan tangan kosong. Tak ada hadiah ulang tahun, tak ada ucapan penuh cinta seperti biasanya, tak ada momen berharga yang patut dikenang, padahal ini hari ulang tahunnya. Yah, secara ironi, mungkin ia sudah mendapatkan hadiah ulang tahun dan momen berharga yang terbaik.

Haha.

Cukup lucu, kalau dipikir-pikir—ia sudah lama menanti-nanti hari ini, dimana ia bisa berduaan saja dengan Hiyori selama mungkin. Mereka tidak dikekang waktu, tanggung jawab, kewajiban, atau semacamnya. Di dunia hanya ada mereka berdua, dan tampaknya fatamorgana itu menghilang selamanya dalam kurun waktu singkat.

Hiyori bahkan tidak menoleh sedikitpun saat dirinya pergi.

Dan, Hiyori bahkan tidak peduli apakah hari ini ulang tahunnya atau bukan, apakah hari ini Kazuma harusnya berbahagia atau tidak.

Dasar hari ulang tahun pembawa sial.

Setibanya di stasiun, ia mampir sebentar ke vending machine terdekat kemudian membeli kopi kaleng. Ia terlalu banyak minum kopi, tapi toh ia tidak berniat tidur malam ini. Kopi kaleng ada di tangan kanannya. Ia melirik jam tangannya—13:45, tepat satu jam empat puluh lima menit setelah waktu janjian di coffee shop.

Kazuma mengernyit. Ia cepat-cepat mengalihkan pandang, berjalan keluar dari stasiun, kemudian berjalan di sepanjang trotoar sambil tangannya berusaha membuka kaleng kopi yang dibelinya barusan.

Jalanan pada hari ini sangat sepi. Nyaris tidak ada yang berlalu-lalang, hanya ada satu-dua orang yang sedang berjalan di trotoar seperti dirinya. Itu bisa dibilang tumben, biasanya pada jam ini jalanan masih ramai.

Ia menyesap sedikit kopi, dengan mata yang tetap memandang lurus ke depan. Tidak masalah, 'kan? Toh tujuannya hanya berjalan lurus, rumahnya ada di sisi kiri trotoar sekitar lima ratus meter ke depan. Dan jalanan sedang sepi, jadi ia tak perlu khawatir menabrak pejalan kaki seperti dirinya.

"—Kazuma-san!"

Langkahnya terhenti. Apa indra pendengarannya salah, atau ia memang mendengar Hiyori memanggilnya dari kejauhan?

Dengan agak enggan ia menoleh. Kemudian mendesah keras ketika yang ia lihat ternyata adalah Ebisu Kofuku, teman sekelasnya yang punya toko bunga merangkap rumah. Ia pernah bilang kalau rumahnya ada di daerah sini, dan tampaknya Kazuma telah berjalan melewati rumah Kofuku tadi.

Kazuma berjalan mendekati Kofuku.

"Apa?"

Kofuku tersenyum. "Raut mukamu kusut, kayak baju setelah dicuci." Kazuma batuk pelan. "Tumben kau dandan ganteng. Biarpun mukamu tetap sama saja. Ada apa, kau mau nembak cewek?"

Padahal Kofuku hanya bermaksud meledek, tapi mata Kazuma langsung terlihat lelah setelah itu. Ada dua kemungkinan, ia ditolak atau—ada kejadian lain. Tidak biasanya Kazuma yang berpembawaan tenang bisa terpuruk seperti ini.

"—Kazuma-san."

Kazuma hanya memandangi Kofuku sebagai pertanda bahwa ia mendengarkan. Kofuku menunjuk ke arah rumahnya dengan dagu.

"Mau berteduh sebentar? Di luar panas."

.
.
.

Mereka berdua duduk di halaman belakang rumah Kofuku, di bawah bayang-bayang pohon yang berada di dekat situ. Di antara mereka, ada nampan penuh semangka yang tampak segar. Kofuku memegang cangkir berisi es serut stroberi, sementara Kazuma menyesap kopi.

Kofuku melirik Kazuma. "Jadi, ada apa denganmu? Tumben kau murung."

Kazuma mendesah. "Kau tahu kalau aku punya pacar?"

Mata Kofuku terbelalak. Ia sangka Kazuma bukan tipe orang yang bakal pacaran. Kalaupun pacaran, paling-paling secara terpaksa karena ditunangkan oleh orangtua kedua belah pihak. Kazuma terlalu terlihat serius dan berwajah tegas, Kofuku seratus persen yakin gadis-gadis yang mencintainya pasti memiliki pembawaan masokis. Mengesampingkan pikirannya, "tidak. Ada apa dengan pacarmu?"

"Aku diputusi."

Ah, ini kabar yang baru lagi. Siapa sangka Kazuma yang serius dan tegas seperti ini bisa diputusi? Padahal seharusnya Kazuma yang memutusi.

"Gara-gara... cowok lain."

Kofuku diam menyimak, ekspresinya prihatin. Ia memanggil Kazuma ke rumahnya di saat yang tepat, kebetulan hari ini Daikoku—kakaknya—tidak ada, jadi ia bisa menjadi orang yang dapat menyemangati Kazuma.

"Mungkin mereka sudah jadian saat aku sibuk mengurusi ujian masuk," Kazuma tertawa getir. "Harusnya aku lebih memperhatikan Hiyori saat itu. Perhatianku pada Hiyori saat itu sangat tidak cukup—aku hanya sibuk mengurusi ujian, aku tidak memikirkan apa-apa lagi. Sampai-sampai aku nyaris tidak tidur tiga hari hanya karena sibuk belajar. Hasilnya memang terbayarkan setelah ujian, tapi—..."

Suara Kazuma mulai bergetar, tapi ia menutupinya dengan kembali menyesap kopi.

"Aku bahkan tidak menarik tangannya untuk tetap tinggal saat ia berjalan pergi," suara Kazuma kembali normal, tapi nadanya kedengaran sedih. "Benar-benar cowok payah."

Apa yang bisa Kofuku lakukan untuknya?

Menyemangatinya?

Mengatakan 'semua pasti baik-baik saja'?

Sebetulnya tak ada yang benar-benar bisa Kofuku lakukan. Menangani curhatan masalah cinta seperti ini bukanlah keahliannya. Dan ia takut salah omong kalau-kalau membalas sembarangan.

. . .

Satu tangannya ditepukkan ke bahu Kazuma.

"Pasti semuanya berat bagimu," ucap Kofuku.

"Ya, memang."

Kazuma memandang langit, kemudian mengangkat sebelah tangan ketika matanya tersengat terik matahari. Tatapan matanya sendu, tidak kuat seperti biasanya.

"Ebisu-san,"

"Mm?"

"Andaikan—aku tidak merasa bersalah sedikitpun terhadap apa yang telah kulakukan pada Hiyori, dan aku bahkan tidak tahu apa kesalahanku hingga membuat Hiyori memutus hubungannya denganku, apa aku benar?"

Kofuku ingin menjawab, tapi tampaknya Kazuma tidak sedang berbicara pada Kofuku. Lebih seperti menggumam sendiri.

"Masalahnya, aku—...belajar keras demi masuk universitas juga agar dirinya bisa bangga. Kalau aku bisa masuk universitas favorit, orang yang paling pertama ingin kudengar kalimat-kalimat pujiannya adalah Hiyori." Kazuma tersenyum kecut. "Aku bisa membayangkan ia tersenyum lebar padaku, mengucapkan selamat berulang kali padaku, kemudian kami jalan-jalan, mungkin. Dan ciuman untuk pertama kalinya? Aku tidak pernah ciuman seumur hidupku, tapi aku ingin ciuman pertamaku dimiliki Hiyori. Dan untuknya juga berlaku demikian.

"—nyatanya, ia sudah mencintai orang lain sebelum kami berdua punya kesempatan melakukan semua hal itu."

Kazuma menenggak kopi dalam jumlah banyak, menutupi suaranya yang bergetar hebat.

"Dia sudah..."

Akhirnya Kazuma hilang kendali. Air mata mengalir dari salah satu matanya, dan ia langsung melepas kacamata dan menghapus air mata dengan lengan baju.

Kofuku bangkit berdiri.

"Maaf." gumam Kazuma lirih.

"Tidak apa-apa," Kofuku berjalan masuk, kemudian kembali dengan membawa satu kotak penuh tisu. Kazuma menarik satu tisu, kemudian menyeka matanya menggunakan tisu itu. Kofuku kembali duduk, memandang langit yang tadinya Kazuma pandangi.

"Sudah berapa tahun kalian pacaran?" tanya Kofuku tiba-tiba.

Kebetulan saat itu, Kazuma sudah selesai menyeka matanya. Ia memasang kembali kacamatanya, sedikit memperbaiki posisinya, kemudian menjawab tanpa menoleh. "Kira-kira setahun lebih. Dua bulan lagi, September—genap dua tahun."

Kofuku tersenyum, ia kembali menepuk pundak Kazuma untuk menenangkan. "Tidak apa-apa, Kazuma-san. Orang yang sudah mencintai seseorang selama setahun lamanya pasti takkan bisa pindah hati segampang itu. Ada kemungkinan besar Hiyori-san atau siapalah nama pacarmu itu, masih mencintaimu."

"Hingga sekarang?"

"Hingga sekarang."

Senyum Kazuma mengembang, walau terkesan dipaksa. "Terima kasih, Ebisu-san. Tapi—kalau ternyata ia benar-benar melupakanku, bagaimana?"

"Kalian pernah saling mencintai," gumam Kofuku dengan nada berbisik. "Dia pastinya sulit untuk melupakanmu."

"Sepertiku, kalau begitu."

_________________

YatoRi for Laifu!

Tokyo Ghoul (Discuss) | Shingeki no Kyojin (Discuss) | Set Request & Set Results | PERSYARATAN ENDORSE TOPIK! (ongoing)

FC...:
 
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: Pair Drabbles   

Back to top Go down
 
Pair Drabbles
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Maotsujun Dialogues [drabbles]

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Midnight Academy :: Member Creativity :: Karangan Cerita-
Jump to: