Midnight Academy
Selamat Datang Di MA Dimana Kamu Main RPG Berbasis Battle, School, etc, games, dan lain-lain Segera Lah Register Kalau Guest Dan patuhi aturan, jangan sungkan ikutan Gabung

Administrator Team


Welcome to Midnight Academy
 
HomeNewsCalendarGalleryFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in
Midnight Academy
Forum AgoessNaruto ● Forum Diskusi Naruto
Tempat untuk para maniak Naruto
Paradox academy.
Mirai Academy
Public School, Official RPF
Animanga Indonesia Fan
Control Panel

Guest profile

Information

Preference

Signature

Avatar

Social

Friends and Foes

Memberlist

Groups

Private messages

Inbox

PM sent

Other

Topic is being watched

Switch account:



Share | 
 

 [ Naruto Fanfiction ] Rejection

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Sun Aug 25, 2013 8:29 am

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Beberapa notes :

- Disini setting setelah Invasi Pain
- Naruto tidak pernah kehilangan kendali Kyuubi (yang sampai ekor 8 )
- Minato tidak tahu tentang kehidupan Naruto (meskipun harusnya tahu sih)
- Minato tidak tahu waktu sudah berjalan selama 16 tahun
- Minato maupun Naruto tidak mengenal satu sama lainnya (Minato karena sudah berjalan 16 tahun, Naruto karena hanya dengan pahatan patung Yondaime tidak akan bisa mengenali langsung Yondaime Hokage)

.

Bagaimana jika Naruto tidak pernah kehilangan kontrol Kyuubi saat Invasi Pain? Bagaimana kalau ia tidak bertemu dengan Minato dan belum mengetahui siapa ayahnya? Bagaimana kalau Shinigami memutuskan untuk menghidupkan dua orang yang sudah mati selama 16 tahun kembali ke dunia? Apa yang akan menjadi reaksi Naruto saat mengetahui bahwa selama ini yang membuatnya mengalami mimpi buruk adalah ayahnya sendiri?

.

Chap 1, The Dead Man

.


Pain dikalahkan, terima kasih untuk semua yang dilakukan oleh Naruto. Mempelajari Senjutsu dan mencoba untuk berbicara dengan Pain, membuat yang bersangkutan percaya padanya yang menghentikan pertarungan. Meskipun baik Naruto ataupun yang lainnya tahu kalau itu bukanlah akhir dari perang yang terjadi.

Kali ini, Naruto berada di tengah hutan mencoba untuk mencari mungkin para shinobi yang masih terluka dan tidak bisa mencapai Konoha.

“…shina…” suara itu tampak membuatnya berhenti berjalan, melihat sekelilingnya saat melihat pergerakan yang ada di dekatnya. Dengan segera ia bergerak cepat, mencoba untuk melihat siapa dan apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak.

“Kushina, bertahanlah…” ia berhenti hanya beberapa meter dari sosok itu. Seorang pria yang berambut kuning dengan noda merah yang mengotori beberapa tubuhnya, lalu sebuah jubah putih yang terkoyak bagian bawahnya, dan di belakang punggungnya hanya terlihat tulisan ‘Yon’. Sedang berada di samping seorang wanita yang tampak tidak kalah kacaunya daripada pria itu.

Dilihat dari Hitai Ate yang dipakai oleh pria itu, Naruto tahu kalau ia berasal dari Konoha. Tetapi, kenapa ia seperti pernah melihat pria itu di suatu tempat?

‘Ini bukan saatnya memikirkan itu Naruto!’ Naruto menggelengkan kepalanya dan dengan segera bergerak mendekati pasangan yang ada disana. Perempuan berambut merah panjang itu tampak memiliki luka yang hampir sama dengan pria itu, di bagian perut. Bahkan Naruto tidak yakin bagaimana mereka berdua bisa selamat dari luka yang tampak sangat besar itu.

“Siapa disana!” pria itu seolah mengikuti instingnya melindungi perempuan yang berbaring di pangkuannya tampak menoleh pada Naruto. Dan ia hanya bisa menatap warna mata yang sama dengan warna matanya.

“Ku—kudengar ada seseorang,” entah kenapa Naruto menjadi sedikit gugup berhadapan dengan pria itu, “dan aku bisa membantu. Aku juga shinobi Konoha…”

Pria itu tampak menatap kearah hitai ate Naruto sebelum mengangguk pelan walaupun masih terlihat waspada.

“Istriku baru saja melahirkan dan juga luka di perutnya, kau harus menyelamatkannya!” Naruto tampak terkejut saat pria itu mencengkram erat kedua lengannya. Ia tahu kalau pria ini sangatlah panik melihat perempuan yang ternyata istrinya itu tampak terlihat tidak sadarkan diri.

“Tenang saja, aku kenal dengan ninja medis terhebat di Konoha.” Membentuk Kagebunshin, dan segera menggendong perempuan berambut merah yang ada di depannya. Dan salah satunya mencoba untuk membantu pria itu yang seperti menolak untuk pergi bersama mereka.

“A—aku harus mencari anakku. Ia pasti ada di sekitar sini,” Naruto membulatkan matanya, istrinya baru saja melahirkan, dan itu artinya anaknya masih sangat kecil. Dengan segera menghentikan pria itu untuk bergerak, karena ia tahu kalau luka di perut pria itu juga tidaklah sembuh begitu saja.

“Aku akan mencarinya, sebaiknya kau ikut boss dan juga perempuan itu!” Naruto, yang merupakan salah satu kagebunshinnya tampak menatap pria itu sebelum pria itu mengangguk dan tubuh asli Naruto yang tampak berada di depannya segera membantu pria itu untuk bergerak.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anda bisa sampai disana?”



Pria itu hanya diam dan tampak memikirkan apa yang ia ingat sebelum berakhir di tempat ini. Saat ia berhadapan dengan Shinigami yang seharusnya mengunci jiwanya dan juga sebagian chakra Kyuubi dalam perutnya.


~~~Flash Back~~~


Hanya ada kegelapan saat ia melihat sekeliling, tidak ada apapun yang menandakan adanya kehidupan disini. Ah, benar juga—ia sudah mati dan tidak akan mungkin lagi melihat kehidupan. Dan hanya akan berada di dalam perut shinigami bersama dengan chakra Yin dari Kyuubi.

‘Kuharap Naruto baik-baik saja tanpaku dan juga Kushina…’

“Apakah kau berfikir seperti itu?” suara itu membuat Minato membulatkan matanya dan menatap pada sosok yang ada di depannya saat ini. Sosok berambut putih dengan wajah yang ke ungu-unguan, lidah yang panjang dan juga kimono putih yang ia pakai, “Yondaime Hokage, apakah kau fikir anakmu hidup seperti yang kau inginkan? Kurasa kau harus memikirkannya kembali…”

“Apa maksudmu? Naruto adalah pahlawan, Hiruzen tidak akan membiarkan apapun terjadi padanya…”

“Kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri nanti. Saat ini, aku akan mengembalikanmu ke dunia bersama dengan istrimu,” Shinigami, yang ia panggil dengan Shiki Fujin tampak membawa sebuah jiwa yang ia kenal dengan baik. Kushina, istrinya.

“Mengembalikan? Kenapa kau mau melakukan itu?”

“Karena dunia membutuhkan anakmu—“ lalu, apa hubungannya dengan mereka berdua, Naruto pasti bisa melakukannya dan ia percaya itu, “dan anakmu, membutuhkan kalian berdua. Atau ia akan semakin terpuruk ke dalam kegelapan dirinya…”



“Aku tahu apa yang kau fikirkan Namikaze Minato. Karena anakmu adalah Child of Prophecy, yang akan menyelamatkan dunia. Itulah jawaban atas pertanyaanku,” Minato masih shock dengan apa yang ia dengar. Namun sebelum ia bisa mengatakan apapun, tampak seberkas cahaya terang langsung menabraknnya.

Dan saat ia sadar, ia sudah berada di tengah hutan, dengan Kushina berada di pangkuannya. Dan satu hal yang harus ia temukan adalah anaknya. Naruto.


~~~End~~~


“Uhm, hei kau tidak apa-apa?”

Minato menoleh pada pemuda yang ada di depannya saat ini yang tampak bingung karena tidak dijawab pertanyaannya. Baru saja akan mengatakan sesuatu, saat ia melihat gerbang Konoha yang hancur. Matanya membulat, apakah Kyuubi sampai menghancurkan desa separah ini, lalu apa yang terjadi dengan shinobinya.

Naruto sendiri hanya bingung sebelum berjalan masuk ke dalam desa dan segera menemui Sakura dan juga Hinata yang ada di dalam salah satu tenda yang ada di sana.

“Sakura-chan, Hinata-chan, aku butuh bantuan disini!” Hinata yang menghampiri Naruto dan juga pria yang ada bersama dengan Naruto. Hinata memang tidaklah ninja medis yang handal seperti Sakura,tetapi ia sedikit banyak mengetahui bagaimana cara kerja chakra medis.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Chakra perempuan ini benar-benar sedikit, dan pendarahan akibat pasca melahirkan, aku membutuhkan bantuan Shizune,” Sakura masih mencoba mengecek keadaan Kushina sementara Hinata dan juga Naruto membantu Minato untuk berbaring di ranjang yang ada di samping Kushina.

“Kumohon, selamatkanlah Kushina dan juga anakku—“ entah kenapa Naruto tampak benar-benar terpukul melihat keadaan pria itu, yang walaupun dalam kondisi yang lemah masih memikirkan istri dan juga anaknya.

“Naruto, hentikan mode Senninmu sekarang juga! Kau membuat semua yang ada disini kelelahan kau tahu?!” Sakura menatap Naruto yang tersentak dan baru menyadari kalau ia berada dalam mode sennin.

“Maaf Sakura-chan, aku lupa kalau aku menggunakannya!”

Melepaskan mode Sennin itu, tidak menyadari kalau pandangan Minato sekarang tertuju padanya. Naruto berbalik dan akan berjalan menjauhi Minato saat sebuah tangan yang lemah mencengkram lengannya dan membuatnya berbalik.

“Anda tidak boleh bergerak dulu tuan…” Hinata tampak menatap kearah Minato, sebelum dahinya berkerut. Ia baru melihat dengan baik wajah yang ada dihadapannya saat ini. Mata biru sapphire yang tampak familiar, sama dengan yang dimiliki oleh Naruto. Tetapi, tidak ada satupun orang Konoha yang memiliki mata seperti itu selain Naruto.

“Naruto…”

“Ehm, yep—itulah aku,” Naruto menggaruk kepalanya dengan tangannya yang bebas sementara tangan lainnya tampak masih dipegang erat oleh Minato, “Tuan, bisa kau lepaskan tanganku?”

Bukannya melepaskan tangan Naruto, Minato tampak membuka jaket orange yang dipakai oleh Naruto, dan mengalirkan chakra pada bagian Hakke Fuin yang ia letakkan pada perut Naruto. Dan benar saja, saat itu fuin tampak muncul dan Naruto yang tidak sempat bereaksi segera menepis tangan Minato dan bergerak mundur.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

“Maaf…” Naruto mengerutkan alisnya dan menatap kearah Minato yang berjalan gontai sebelum mencengkram kedua lengannya lagi, “maafkan aku… maafkan aku Naruto… aku tidak memiliki pilihan lain untuk tidak melakukannya…”

“A—apa maksud—“ Naruto tampak terkejut saat tubuh itu semakin lemah dan hampir saja terjatuh kalau saja Naruto tidak segera menahannya. Hinata dan juga Sakura yang sedaritadi melihatnya hanya bisa terdiam dan tampak menatap Naruto.

“Naruto—apakah kau mengenalnya…?”



“Entahlah Sakura-chan, aku tidak pernah melihatnya seumur hidupku…”


~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Sun Aug 25, 2013 8:48 am

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Bagaimana jika Naruto tidak pernah kehilangan kontrol Kyuubi saat Invasi Pain? Bagaimana kalau ia tidak bertemu dengan Minato dan belum mengetahui siapa ayahnya? Bagaimana kalau Shinigami memutuskan untuk menghidupkan dua orang yang sudah mati selama 16 tahun kembali ke dunia? Apa yang akan menjadi reaksi Naruto saat mengetahui bahwa selama ini yang membuatnya mengalami mimpi buruk adalah ayahnya sendiri?

.

Chap 2, Alive

.


Suasana hening embali saat mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto. Pertama, pria itu terlihat familiar, lalu ia mengenal Naruto, dan yang terakhir—membuat Naruto sedikit tersentak saat menyadarinya.

“Aku tidak ada waktu untuk memikirkan ini! Masih ada anaknya yang ada di hutan dan aku harus menemukannya—“ Naruto mencoba untuk membaringkan kembali Minato dan segera bergerak menjauhinya untuk bersiap, “Sakura-chan, aku serahkan mereka pada kalian!”

Sakura hanya mengangguk dan Naruto serta Hinata segera berlari keluar bersamaan dengan Shizune yang masuk sambil melihat Naruto yang terburu-buru.

“Aku segera kembali saat mendengar ada yang terluka lagi. Bisa kau tunjukkan siapa Sakura?” Sakura mengangguk dan membawa Shizune menuju ke tempat Kushina. Shizune yang tentu saja mengetahui siapa Kushina dan juga Minato tampak membulatkan matanya dan terkejut. Menoleh pada pria yang ada di ranjang yang ada di sampingnya, sebelum semakin terkejut dengan itu.

“Shizune!”

Shizune tampak tersadar dari keterkejutannya saat mendengar Sakura berteriak. Masih dengan tatapan takut dan juga terkejut, menunggunya melanjutkan perkataannya.

“Ada apa? Kau mengenal mereka?”

“Sa—Sakura, bagaimana kalian bisa menemukan mereka?!” Shizune tampak menghentakkan bahu Sakura yang terkejut dengan bagaimana reaksi dari senpainya itu.

“Na—Naruto menemukan mereka di tengah hutan. Ini bukan saatnya untuk menanyakan hal itu Shizune, kita harus segera menolongnya, ia mengalami pendarahan setelah melahirkan,” Shizune segera mengecek keadaan perempuan berambut panjang itu dan mengobatinya.

“Kushina-san, apa yang terjadi padamu…” mengusap rambut merah perempuan itu, dan Sakura tampak sedikit bingung begitu juga dengan Hinata, saat mendengar Shizune menyebutkan sebuah nama yang asing di telinganya, “bertahanlah, aku akan menolongmu…”

“Shizune, apakah kau baru menyebutkan nama perempuan ini? Kau mengenalnya?” Shizune terdiam sejenak sambil mengobati Kushina, sementara Sakura masih menunggunya untuk menjawab pertanyaan itu.

“Dia—perempuan ini sangat mirip dengan seseorang yang kukenal dulu. Bukan hanya aku, tetapi semua orang di Konoha…”



“Dia adalah istri dari Yondaime Hokage,” Sakura yang mendengar itu membulatkan matanya. Tidak mungkin, yang ia tahu istri dari Yondaime Hokage sudah tewas saat Kyuubi menyerang desa. Saat perkataan itu keluar dari mulutnya, Sakura juga menyadari sesuatu—kenapa wajah pria itu sangat familiar baginya.

“Ma—maksudmu, dia adalah—“ Sakura menatap dengan tatapan horror pada pria yang ada di depannya saat itu.

“Dari penampilannya, ia mirip dengan Yondaime Hokage. Namikaze Minato—tetapi, aku tidak tahu apakah asli atau tidak, sementara dokumen tentangnya hancur karena serangan Pain,” Shizune sedikit bingung bagaimana menghadapi semua ini. Setelah mengobati Kushina, ia segera bergegas menuju ke tempat Minato yang masih tidak sadarkan diri.

Fikirannya mengatakan kalau ia bukanlah Namikaze Minato. Pemimpin muda yang berbakat dan kuat, pemimpin terbaik yang dimiliki oleh Konoha itu sudah tewas saat mengorbankan dirinya bahkan saat ia baru berusia belasan tahun. Mungkin saja ini hanyalah sebuah trik dari musuh atau—

“Ada satu orang yang bisa memastikan apakah ia adalah Yondaime Hokage atau tidak.”

Sakura menoleh pada Shizune yang menoleh padanya juga.

“Kakashi.”

~~~

Saat invasi pain, Kakashi mengira tidak akan menemukan hal yang mengejutkan selain bertemu dengan ayahnya dan sempat tewas selama beberapa saat. Namun, saat ini ia kembali dihadapkan dengan sesuatu yang tampak tidak nyata dan juga tidak masuk akal.

Namikaze Minato, gurunya, Hokagenya, pengganti ayahnya yang sudah tewas sejak 16 tahun yang lalu terbaring di depannya dalam keadaan hidup dan juga bernafas. Begitu juga dengan Kushina yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.



“Chakra miliknya sama dengan Minato-sensei, tetapi bagaimana bisa sensei masih hidup. Ia juga tidak dalam keadaan dikendalikan,” Kakashi, sama seperti Shizune benar-benar shock dengan apa yang ada di depannya. Sakura tampak hanya menunggu penjelasan dari dua orang yang mengetahui semua yang ada di depannya dengan sabar.

“Bagaimana kalau ini hanyalah genjutsu kuat dari Orochimaru?!”

“Kita tidak bisa memastikannya selain menunggunya sadar Shizune, sekarang ini jangan sampai ada seseorangpun yang tahu siapa mereka termasuk Naruto.”

“Tetapi saat Naruto membawa mereka kesini, Yondaime-sama sudah sadarkan diri,” Kakashi dan Shizune semakin terkejut mendengar pengakuan Sakura. Takut jika Naruto mengetahui hal itu tanpa ada persiapan.

“Lalu apa yang ia katakan Sakura?!”

“I—ia hanya menatap Naruto dan membuka pakaiannya, mengalirkan chakra sebelum sebuah fuin muncul di perut Naruto. Lalu ia—“ Sakura mencari kalimat diantara kepanikannya itu sebelum menyadari sesuatu yang langsung menabrak fikirannya, “ia meminta maaf pada Naruto. Seolah ia melakukan sesuatu…”

CKLEK!

Suara pintu tampak membuat Kakashi dan juga Shizune menoleh untuk menemukan Hinata yang tampak membawa korban terluka. Hinata bisa merasakan atmosfer yang menekan dari ketiga orang yang ada disana.

“Naruto-kun menemukan shinobi yang terluka. Dan ia memintaku membawanya ke Sakura selagi ia mencari anak itu,” Hinata sedikit gugup dengan apa yang ada di depannya. Sakura yang tampak bahkan tidak menyadari apapun tentang keberadaan Hinata tampak membulatkan matanya.

“Tunggu Kakashi-sensei, Shizune! Kalau ia memang Yondaime Hokage, itu sebabnya ia tahu Naruto? Apakah karena ia mengunci Kyuubi di tubuh Naruto membuatnya meminta maaf pada Naruto?!” Hinata tampak mengerutkan dahinya dan memutuskan untuk mendekat dan mendengarkan lebih jelas apa yang terjadi.

Kakashi dan Shizune saling bertatapan dan tampak menghela nafas sambil menggeleng pelan.

“Bukan hanya itu Sakura—lebih dari itu…” Shizune tampak benar-benar lelah dengan apa yang terjadi di Konoha sekarang. Tsunade yang koma, Konoha yang hancur dan sekarang kebangkitan kembali Hokage yang seharusnya sudah tewas.

“Lalu—“

“Sakura, Hinata—“ Kakashi sedikit menyingkir agar Hinata dan juga Sakura melihat kedua orang yang tidak sadarkan diri itu, “aku akan memperkenalkan mereka berdua pada kalian. Mereka adalah Uzumaki Kushina, dan juga Yondaime Hokage, Namikaze Minato. Dan mereka—”

.

.

.

“—adalah orang tua dari Naruto.”

~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Sun Aug 25, 2013 8:53 am

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Chap 3, The Truth

.


Naruto masih bergegas untuk menuju ke tempat dimana ia terakhir kali menemukan pria itu—Minato. Tanpa tahu kalau yang meminta itu adalah ayahnya, dan yang dimaksud adalah dirinya. Sampai di tempat itu, penuh dengan pepohonan yang tumbang karena serangan Pain.

Ia tidak bisa tidak memikirkan apakah anak yang dimaksud sudah mati atau belum. Tetapi ia tidak boleh menyerah—yang harus ia lakukan hanyalah mencari dan terus mencari walaupun mungkin yang akan ia temukan hanyalah mayat dari bayi yang tidak bernyawa.

‘Kalau saja orang tuaku masih hidup dan mendapati aku menghilang, apakah mereka akan bereaksi seperti pria itu?’



Naruto tampak terdiam dan tidak melakukan apapun selama beberapa menit karena menyadari apa yang ia fikirkan tadi. Menggelengkan kepalanya, tampak menepuk kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya.

“Apa yang kau fikirkan Uzumaki Naruto, kau tidak memiliki orang tua. Mereka tidak akan melakukan itu untukmu,” Naruto menghela nafas dan kembali mencari diantara pepohonan yang hancur sebelum menyadari sesuatu yang ada disana, “makam?”

Mendekat dan mencoba untuk melihat kearah batu nisan itu, dua buah batu nisan yang berdampingan. Tetapi kenapa mereka terpisah seolah tidak ada yang boleh menemui dan juga menghampiri makam itu?

“Na-mi-ka-ze Mi-na-to—“ melihat nama itu, dan sebuah gelar yang ada di bawah namanya yang tertutup oleh dedaunan yang ada disana dan segera ia sapu, “Yondaime…Hokage?”

DEG!

‘Ya, ia adalah orang yang membuat hidupmu hancur Naruto…’ entah bagaimana suara yang ada di dalam dirinya tampak menggema sangat jelas kala itu. Menutup kedua telinganya dengan tangannya, tampak terlihat ketakutan dengan apa yang ia dengar, ‘pahlawan yang selama ini kau dan desa ini kagumi…’

“Tidak…”

‘Kau tidak ingat dengan apa yang dilakukan oleh penduduk desa karena Hokage yang mengorbankanmu untuk menjadi Jinchuuriki dariku?’

“Diamlah Kyuubi…” tampak menutup matanya erat dan mencoba untuk tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Bijuu yang ada di dalam tubuhnya. Ia melihat sebuah makam lagi, dan tampak sama dari luarnya dengan makam yang ada di depannya saat ini.

“Ku-shi-na…?” ia mencoba untuk membersihkan batang dan dedaunan yang menutupi nama keluarga makam yang ada di depannya.

“Naruto!” Naruto tersentak saat mendengar namanya dipanggil untuk menemukan Kakashi yang tampak dengan cepat menghampirinya. Ia tahu kalau arah itu adalah arah dari makam milik Minato dan juga Kushina. Kalau Naruto sampai mengetahuinya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Kakashi-sensei?”

“Apa…yang kau lakukan disini?” Kakashi tampak sedikit memaksakan dirinya yang masih terluka. Terlihat nafasnya yang masih memburu, membuat Naruto meninggalkan kedua makam dan mencoba untuk menghampiri Kakashi.

“Aku sedang mencari anak yang menghilang disini Kakashi-sensei! Kau bisa membantuku?” Kakashi hanya diam dan menatap murid kesayangannya itu dengan tatapan sendu. Apa yang akan difikirkan oleh Naruto saat mengetahui semua ini—ia tidak berani membayangkannya.

“Tidak perlu mencarinya Naruto, kau tidak akan menemukannya sekarang! Yang lebih penting, aku ingin kau ikut denganku,” Naruto yang masih bingung tampak hanya bisa diam sebelum menggaruk kepalanya dan mengangguk. Mengikuti gurunya yang ada di depannya saat ini.

“Sensei, kenapa kau mengatakan tidak akan menemukannya? Apakah kau sudah menemukan anak itu?”

“Itu tidak lagi penting—aku membutuhkan darahmu sekarang,” Naruto tampak melambatkan langkahnya dan menatap kearah Kakashi dengan tatapan ‘kau bercanda?’ dan Kakashi hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang bisa menjawab pertanyaan dengan ‘aku serius Naruto’.

“Untuk apa?”

“Aku ingin melakukan tes DNA pada orang yang kau temukan tadi,” Naruto semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh gurunya dan hanya bisa menaikkan sebelah alisnya mendengar itu, “kita harus cepat Naruto.”

“Tunggu sensei! Kau belum menjawab tentang anak itu, dan—untuk apa aku memberikan darahku untuk melakukan test DNA pada orang asing yang baru kutemui tadi?!” Naruto menghentikan langkahnya saat mereka sudah masuk ke dalam desa Konoha dimana beberapa orang masih mencoba untuk membenahi desa.

“Naruto—aku akan menjelaskannya kalau kau diam dan mengikutiku SEKARANG!” Naruto sedikit terkejut dengan nada Kakashi yang tampak meninggi dan marah. Ia jarang melihat Kakashi seperti itu, dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk dan berjalan kembali tanpa protes untuk kali ini.

~~~

Naruto tampak memasuki ruangan tenda yang menjadi tempat peristirahatan dua orang yang tadi ia temui. Kakashi hanya diam dan mendekati pria yang ada di ranjang itu, Naruto tampak hanya diam mengikuti. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan keheningan yang tercipta karena Kakashi tidak berbicara sama sekali.

“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi Kakashi-sensei…?”

“Naruto—“ Naruto menoleh pada Kakashi yang juga menatapnya, “apakah kau tahu siapa orang yang ada di depanku ini?”

Naruto hanya menggeleng, walaupun memang ia merasa pernah melihatnya—namun entahlah dimana.

“Mungkin mereka shinobi Konoha yang baru saja selesai mengerjakan misi. Dan membutuhkan bantuan untuk menemukan ANAK MEREKA.” Naruto yang masih kesal karena Kakashi menariknya paksa dan meninggalkannya untuk tidak mencari anak dari kedua orang itu.

“Naruto—pria ini, sangat mirip dengan Namikaze Minato,” nama yang baru saja ia lihat di batu makam yang ia temukan tadi. Dan nama dari, “Yondaime Hokage Konoha…”



“Apa?”

“Chakra miliknya sama persis dengan terakhir kali kurasakan. Tetapi aku membutuhkan darahmu untuk lebih meyakinkannya lagi,” Naruto masih stuck dengan kenyataan kalau yang ada di depannya saat ini adalah orang yang… orang yang membuat dunianya hancur selama belasan tahun. Tetapi—

“Itu tidak menerangkan kenapa kau membutuhkan darahku untuk meyakinkan siapa dia…?” entah kenapa jantungnya saat ini berdetak lebih kencang dan tidak beraturan, “bukankah ada data mengenai diriya di arsip Konoha?”

“Kau tahu kalau semuanya hancur karena serangan Pain bukan?”

“Tetapi kenapa harus darahku!” Naruto tampak cukup marah karena Kakashi yang seolah mengulur-ngulur waktu untuknya.

“AYOLAH NARUTO! Kenapa kau harus keras kepala disaat seperti ini?” Kakashi tampak juga ikut kesal dan terlihat frustasi. Naruto hanya menatapnya tajam dan tidak mengubah apa yang ada di fikirannya, “sial, aku tidak percaya kalau aku yang harus mengatakan ini padamu…”

“Mengatakan apa?”

“Ingatlah Naruto, Sandaime-sama menyembunyikan ini untuk keselamatanmu. Ia tidak ingin mengatakannya sampai kau siap untuk menghadapinya. Saat ia meninggal, Jiraiya-sama yang ingin mengatakannya padamu. Dan karena beliau tewas, Tsunade-sama yang akan mengatakan padamu setelah ini,” Naruto hanya bisa berfikir apa lagi yang dirahasiakan darinya selain sebuah bola bulu yang ada di dalam dirinya, “Naruto… ayahmu adalah Yondaime Hokage Konoha. Namikaze Minato.”

‘Ia adalah orang yang membuatmu menderita…’

Seolah dunianya tampak berhenti berputar, Naruto hanya bisa mematung sesaat setelah mendengarkan hal itu. Apakah ini adalah mimpi buruk? Yang ia rasakan saat ini? Entahlah, campur aduk—benci, kesal, senang, ia tidak mengerti lagi apa itu ekspresi yang ia perlukan.

“Le—lelucon yang tidak lucu sensei,” tampak suara Naruto gemetar, “jangan bercanda dengan hal itu, mengatakan sesuatu yang sembarangan tentang Hokage. “

“Naruto, apakah aku terlihat sedang bercanda? Ayahmu adalah mantan guruku, dan kau sangat mirip dengannya. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau kau adalah—“

“ITU BOHONG!” Naruto berteriak sambil menatap benci pada Kakashi sebelum menatap kedua orang yang dikatakan gurunya sebagai kedua orang tuanya, “kalau itu benar… seharusnya ia tidak menyegel Kyuubi padaku—anaknya sendiri! Dan itu karena—itu hanya karena, ia tidak seharusnya melakukan itu dan meninggalkanku!”

“Alasannya adalah karena ia percaya padamu—karena kau adalah anaknya satu-satunya. Lagipula darah dari klan Uzumaki adalah wadah yang cocok untuk menjadi Jinchuuriki—“

“AKU TIDAK PERCAYA! Semua orang membenciku apapun yang kulakukan! Dan aku tidak pernah tahu apa alasannya! Aku selalu sendirian hingga Iruka-sensei mulai perduli padaku…dan aku tetap tidak memiliki teman setelah itu,” Naruto menggelengkan kepalanya dan tampak menunduk, “semua orang menganggapku sebagai sampah. Hidupku hancur selama belasan tahun dan kau menyuruhku untuk percaya kalau itu semua karena AYAH KANDUNGKU?!”

Kakashi yang saat ini tampak terkejut melihat reaksi Naruto. Naruto yang ia kenal sebagai seorang yang pemaaf dan juga periang, selalu menunjukkan senyuman b0doh dan tidak bisa diam kini tampak mematung dan berteriak seperti orang lain yang tidak ia kenal.



“Berikan suntikan itu padaku…” Kakashi memberikan suntikan yang ada di depannya, dan Naruto tampak mengambil darahnya sebelum mengembalikannya pada Kakashi dan segera pergi dari tempat yang menurutnya menyesakkan itu.

“Naruto—“ Kakashi akan mengejarnya saat tiba-tiba sebuah tangan menahan dan membuatnya tidak bisa bergerak. Menoleh ke belakang saat menemukan senyuman lemah dari pria berambut kuning yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.

“Sensei…”

~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Sun Aug 25, 2013 8:56 am

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Chap 4, Silent Cry

.


“Sensei…” Kakashi benar-benar tidak bisa merespon apapun selain memanggil nama gurunya itu. Seseorang yang ingin ia temui, seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan meninggalkannya seperti Obito dan juga Rin. Saat melihat senyuman itu, entah kenapa semua keraguan akan siapa yang ada di depannya menjadi hilang tanpa bekas.

“Sepertinya baru kemarin aku melihatmu masih berusia belasan tahun…”

“Bagaimana sensei bisa—“ Kakashi kehilangan semua kata-katanya satu orang yang selalu ingin ia temui. Satu-satunya setelah ia kehilangan ayahnya dan semua anggota timnya. Saat Sasuke keluar dari Konoha dan saat semuanya menjadi sangat kacau. Kakashi hanya bisa melemah dan duduk di kursi yang ada di dekatnya, “maaf…”

“Tidak apa-apa Kakashi—jadi, sudah berapa tahun setelah peristiwa itu?” melihat anaknya yang sudah besar, tentu saja hal itu yang pertama kali ditanyakan oleh Minato yang menatap pada Kakashi di sampingnya.

“Enam belas tahun.”

“Aku tidak menyangka sudah berlalu cukup lama,” Kakashi tahu kalau Minato mendengar semua yang dikatakan oleh Naruto saat itu. Teriakan Naruto cukup untuk membangunkan semua yang ada di tenda itu kalau saja tidak dalam keadaan seperti Kushina.

“Sensei—Naruto tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu—“

“Tidak perlu membelaku Kakashi,” Minato menghela nafas dan bangkit dari tempatnya tidur sambil menoleh pada mantan muridnya, “aku memang menghancurkan hidupnya. Dan itu tidak bisa dibantahkan. Karena aku mengunci Kyuubi dalam dirinya, itu yang membuatnya menderita.”

“Naruto adalah anak yang sangat baik. Ia hanya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan ini—“ Minato tampak hanya menatap Kakashi dengan tatapan kosong. Karena ia tahu, kalau apa yang dikatakan Kakashi itu benar adanya, “lagipula ia adalah anakmu dan juga Kushina-san.”

Dan Minato hanya tertawa lemah mendengar hal itu.

“Bisa kau ceritakan semua yang terjadi selama 16 tahun ini Kakashi? Baik yang buruk ataupun yang menyenangkan…”

~~~

Naruto tampak berada di Ichiraku Ramen, atau lebih tepatnya pada tenda yang dibuat oleh Teuchi untuk menjual ramen. Walaupun ada dua mangkuk ramen di depannya, tidak seperti biasanya Naruto tampak tidak menyentuh sedikitpun ramen yang ada di depannya. Hanya menatap makanan kegemarannya itu, bahkan Teuchi dan Ayame hanya bingung menatapnya.

“Ada apa Naruto, apakah ramennya tidak enak?”

“Ti—tidak apa-apa, hanya memikirkan sesuatu saja Teuchi-san…” Naruto mengambil sumpitnya dan tampak memulai memakannya dengan tidak semangat. Saat sedang asik memakan, tampak teman-temannya yang sedang berjalan-jalan melihatnya dan memutuskan untuk menghampirinya.

“Ini dia pahlawan kita—“ Ino yang pertama kali menghampiri dan menepuk bahu Naruto yang sedikit terkejut, “bagaimana kalau kau mentraktir kami untuk keberhasilanmu?”

“Bukankah terbalik Ino, seharusnya aku yang mendapatkan traktiran,” Naruto mencoba untuk tertawa walaupun semuanya tahu bahwa tawa yang ditunjukkan oleh Naruto benar-benar berbeda dengan tawanya selama ini.

“Naruto, apa yang kau—“

“Naruto.” Hinata dan Sakura yang mengurusi Minato dan juga Kushina tampak muncul dan mendekati pemuda yang tampak menatap mereka kosong. Kalau Sakura dan juga Hinata yang merawat ayah dan ibu—maksudnya, Yondaime Hokage dan istrinya, itu artinya mereka tahu kalau Kakashi mengatakan mereka adalah ayah dan ibunya, “Kakashi-sensei menyuruh kami untuk mendatangimu untuk menyerahkan hasil test.”



“Naruto-kun, ayahmu benar-benar—“

“IA BUKAN AYAHKU!” semua Rookie 11 tampak terkejut mendengar Naruto yang berteriak seperti itu. Bahkan Teuchi dan juga Ayame menghentikan pekerjaan mereka dan menoleh pada pelanggan setia mereka, “ia bukan ayah dan ibuku. A—aku, aku tidak memiliki orang tua kalian tahu itu bukan…”

Chouji sambil memakan keripik kentangnya tampak menatap Naruto yang masih tampak aneh dengan sikapnya saat itu.

“Bagaimanapun bodohnya kau atau seaneh apapun, kau pasti memiliki orang tua—“

“Tidak dengannya! Tidak dengan Yondaime Hokage sebagai ayahku—“ sumpit yang dipegangnya dengan erat tampak patah karena genggaman itu. Semuanya, selain Sakura dan juga Hinata yang sudah mengetahuinya terkejut saat mendengarkan nama yang tentu saja tidak pernah terfikirkan untuk didengarkan dari mulut Naruto dengan nada seperti itu.

Dan dengan segera pemuda itu meninggalkan semuanya dalam keadaan shock dan juga tidak bisa berbicara apapun mendengar tentang informasi baru itu.

~~~

Dan satu-satunya tempat yang ia datangi adalah puncak dari patung pahatan Hokage yang ada di Konoha. Meskipun angin musim gugur tampak berhembus, namun ini adalah satu-satunya tempat yang selalu ia datangi saat ia sedang sedih, saat ia sedang bingung dan juga kesepian.

Di atas pahatan kepala ayahnya yang ada di posisi nomor empat dari sebelah kiri.

Menekuk lututnya, tampak membenamkan wajahnya diantara lututnya sambil menutup matanya untuk memikirkan semua yang terjadi hari ini. Bagaimana ia bertemu dengan seseorang yang ternyata seorang Hokage yang seharusnya sudah tewas, bagaimana ia mengetahui satu lagi rahasia yang tidak ia ketahui.

Siapa sebenarnya aku? Siapa orang tuaku?

Hanya itu pertanyaan yang selalu ia berikan pada Sandaime Hokage. Namun selalu ia menolak untuk menjawabnya. Naruto terus mencoba untuk mencari tahu siapa dia, berharap kalau suatu hari orang tuanya akan datang dan memeluknya, mengatakan hal seperti layaknya orang tua pada anaknya.

Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini. Tidak dengan seseorang yang membuat emosinya campur aduk antara senang dan juga marah.

Ia tidak mengerti lagi berapa kali ia mencoba untuk menjawab pertanyaan dari dirinya. Kenapa Yondaime Hokage memilihnya untuk menjadi Jinchuuriki? Kenapa ia ingin menghancurkan kehidupannya karena monster yang menghancurkan desa itu berada dalam tubuhnya?

Ia tidak lagi bisa menghitungnya…

“Naruto-kun…” suara itu membuat Naruto menoleh untuk menemukan gadis berambut indigo yang mencoba untuk berjalan tanpa suara dan mendekatinya. Hanya bisa diam dengan tatapan lelah, namun itu tidak dipermasalahkan oleh Hinata yang mengetahui bagaimana kacaunya keadaan Naruto saat ini.

“Kau tahu, Yondaime-sama benar-benar terlihat sangat panik saat mengetahui anaknya tidak ada bersama dengannya. Ia menyayangi siapapun yang ia sebut sebagai anaknya. Pasti ada satu alasan untuknya melakukan itu…”

“Entahlah, tetapi fikiranku terus mengatakan kalau aku tidak pernah memiliki orang tua—“ nada yang digunakan oleh Naruto benar-benar terasa lelah dan juga tidak bertenaga. Tidak seperti Naruto yang biasanya, “aku tidak pernah memiliki orang tua sampai kapanpun.”

“Apa yang dikatakan Chouji-kun benar Naruto, seperti apapun kau—semua manusia memiliki orang tua yang—“

“Aku tidak membutuhkan mereka. Aku hidup sendiri sejak kecil, sejak aku bisa mengingat sesuatu di dunia ini.”

“Tetapi semua orang membutuhkan orang tua mereka, minimal mengetahui siapa orang tua mereka Naruto-kun…”

“Aku tidak tahu!” Naruto tidak bermaksud untuk membentak Hinata. Namun, emosinya membawa tubuhnya untuk bergerak mengikuti emosi yang ia rasakan, “tidak ada yang pernah memberitahukanku tentang ini sebelumnya! Aku selalu menjadi anak setan tanpa ada orang tua yang melahirkanku! Setiap hari saat aku mendengar mereka berbisik bagaimana aku aneh dan juga tidak normal… bagaimana mereka menganggapku bukan manusia...”



“Bagaimana pada akhirnya aku sendiri juga menganggap kalau aku bukanlah seorang manusia—“ Naruto menutup mulutnya sendiri, menghentikan semua pembicaraannya tentang isi hatinya yang tidak pernah ia katakan itu.

“O—Orang-orang mengatakan kau bukan—“ Hinata tidak bisa berkata apapun lagi saat itu dan kenyataan yang mengerikan semakin membuatnya ketakutan, “karena bisikan orang-orang yang mengatakan itu… dan karena kau tidak mengetahui siapa kau… Naruto-kun berfikir kalau—“

Menatap tatapan Naruto yang mengarah ke bawah dan kosong, Hinata benar-benar membulatkan matanya.

“Na—Naruto-kun, oh tuhan…kau percaya pada mereka? Kau percaya kalau dirimu adalah Kyuubi?”

Naruto tampak menutup matanya erat, dan tanpa kata-katapun Hinata tahu kalau itu adalah jawaban dari ‘ya’ untuk pertanyaannya tadi.

“N—Naruto-kun bagaimana kau bisa berfikir seperti itu?”

“Sarutobi-jiji tidak pernah menjawab pertanyaanku tentang itu. Dan aku selalu mendengar dan terus mendengar tentang diriku yang bukan manusia. Lalu—aku mendengar tentang Kyuubi yang ada di dalam tubuhku…” isakan pelan terdengar oleh Hinata kala itu, “bagaimana aku tidak beranggapan seperti itu Hinata-chan…?”

Hinata tidak bisa menahan air mata yang keluar dari mata putih keabu-abuannya. Dan melihat kalau saat ini pemuda itu juga menangis, ia tidak menghentikannya. Ia merangkulkan tangannya pada leher Naruto dan memeluknya dengan erat.

“Setelah…semua yang terjadi, saat kau mengenal Kakashi-sensei, dan juga saat mengenal Rookie 11—Naruto-kun masih menganggap kalau Naruto-kun adalah… Kyuubi yang menyamar menjadi manusia?”



“Aku tidak bisa menghilangkan semua itu. Tetapi aku tidak mempermasalahkannya—aku hanya, tidak pernah berfikir kenapa Yondaime Hokage…yang Kakashi-sensei katakan sebagai ayahku mau melakukannya,” Naruto menautkan tangannya pada lengan Hinata, membiarkan kepalanya beristirahat dalam pelukan gadis itu.

“Naruto-kun, kau ingat saat kau membawa Yondaime-sama ke tenda? Ketika ia dalam keadaan terluka parah masih mencari anaknya dan memohon padamu untuk mencarinya?” suara Hinata berbisik, tidak ingin membuat Naruto jadi tidak nyaman, “dan saat Sakura memanggil namamu, ia langsung mengenalimu dan meminta maaf padamu. Ia menyayangimu sebagai anaknya. Ia—“

“Hinata-chan,” ia benar-benar lelah, ia benar-benar ingin mengakhiri semua ini begitu saja. Naruto hanya ingin kembali pada kehidupannya yang biasa namun berat itu, “aku…tidak pernah mempermasalahkan kehidupanku sebagai Jinchuuriki Kyuubi karena itu sudah berlalu. Tetapi—“ suaranya semakin berbisik dan serak karena tangis yang tampak semakin kuat, namun tidak bersuara, “bagaimana aku bisa melupakan apa yang ia lakukan padaku…?”

.

.

.

“Percayalah padaku, aku ingin mempercayainya. Tetapi—ini terlalu berat…”

~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Tue Aug 27, 2013 5:37 am

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Chap 5, Can't Forgive Myself

.


“Aku tidak pantas menjadi Hokage lagi Kakashi,” Minato menghela nafas saat mendengar perkataan Kakashi. Tsunade dalam keadaan koma, dan Kakashi menjadi kandidat untuk menjadi Hokage selanjutnya bersama dengan Danzo. Oke, ia tidak ingin Danzo menjadi Hokage atau semua ini akan kacau.

Tetapi, ia memiliki fikiran sendiri, memiliki masalah sendiri dan yang terpenting—

“Lagipula siapa yang akan tidak terkejut saat melihat seorang Yondaime Hokage yang sudah tewas 16 tahun yang lalu berdiri tegap dan dengan seenaknya mengatakan kalau ia ingin menjadi seorang Hokage lagi?” Minato tertawa pelan dan tampak menghela nafas, “dan—aku adalah ayah yang gagal. Aku tidak yakin kalau aku bisa menjadi seorang pemimpin…”



“Sensei, sudah kukatakan kalau Naruto hanya membutuhkan waktu untuk berfikir bukan? Buktinya ia mau melindungi desa yang sudah menganggapnya seperti—" Kakashi tidak bisa menyelesaikannya. Minato hampir menghancurkan semua yang ada di sini saat mendengar apa saja yang terjadi pada Naruto selama 16 tahun itu. Kalau saja tubuhnya tidak lemah, Kakashi yakin kalau ia tidak akan bisa menghentikan gurunya itu.

"Tetapi tidak, dengan apa yang dilakukan olehku—ayah kandungnya. Kalau saja bisa aku tidak ingin mengorbankannya. Mungkin, hanya mungkin—entah kenapa Naruto menjadi seperti itu aku merasa kalau itu juga salahku," meletakkan lengannya di atas mata, namun menatap langit-langit tenda dari sudut lengannya, "aku hanya berharap Naruto memaafkanku. Aku tidak butuh lebih dari itu. Tidak apa-apa kalau ia tidak menganggapku ayahnya, tidak apa kalau ia tidak ingin bertemu denganku setelah itu."

...

"Kenapa harus aku?"

"Semuanya sedang sibuk bakka! Cepatlah masuk atau aku akan menendangmu masuk," suara itu tampak membuat Kakashi dan Minato menoleh, menemukan Sakura yang mendorong Naruto masuk begitu juga dengan Hinata yang mendorong Naruto malu-malu, "a—ah, selamat malam Yondaime-sama. Maaf mengganggu anda..."

Minato hanya tersenyum dan mengangguk, Hinata juga menunduk sebelum menatap Naruto yang tidak menatap Minato dan tampak masih terlihat kacau. Meminta maaf tanpa suara, sebelum mereka berdua menutup pintu tenda tetapi segera membukanya kembali saat melihat Kakashi.

"Kakashi-sensei, para anggota council memanggilmu." Kakashi menunjuk diri sendiri, Sakura tampak menatap tajam pada Kakashi seolah mengatakan 'cepatlah-kemari-dan-tinggalkan-mereka-berdua-atau-kau-akan-menyesal'. Dan Kakashi hanya menghela nafas sebelum berdiri dari tempatnya tersenyum pada Minato.

"Maaf sensei, aku akan meninggalkanmu dengan Naruto," Naruto tampak menatap tajam pada Kakashi, namun Kakashi tidak memiliki pilihan lain selain keluar sambil meminta maaf pada Naruto.

Saat Kakashi tampak keluar, hanya ada keheningan di tempat itu. Naruto tidak menatap Minato, sementara Minato tidak mengalihkan pandangannya dari Naruto yang tampak canggung dan juga tampak lelah.

...

"Berapa usiamu sekarang Naruto...?"

"Enam belas tahun." Naruto tampak menatap Minato saat Minato tidak mengatakan apapun. Dan melihat sang Yondaime Hokage tampak bangkit dan mengibaskan tangannya agar Naruto mendekatinya. Naruto tampak hanya diam sebelum berjalan perlahan dan duduk di kursi dimana Kakashi duduk tadi. Ia tetap memalingkan wajahnya dari Minato, tidak menatapnya sama sekali.

"Kau sangat mirip dengan ibumu..."

...

"Orang tuaku sudah tewas saat aku lahir—Sandaime-Jiji ataupun Sennin mesum tidak pernah memberitahu apapun padaku. Jadi, kurasa anda salah jika mengatakan kalau aku adalah anak anda," Naruto tidak berani melihat ekspresi Minato saat mendengar hal itu. Dan tentu, Naruto akan sangat merasa bersalah kalau ia melihat tatapan sakit dan sedih dari Minato.

"Aku mendengar tentang—"

“Ugh…” suara itu membuat Minato yang pertama kali merespon. Menatap perempuan berambut merah yang sedikit bergerak-gerak dari tempatnya tidur, sebelum matanya membuka dan menatap kearah sang Yondaime Hokage, “Minato…?”

“Kushina, kau tidak apa-apa?!” Minato segera bangkit dan akan berjalan, namun bangkit tiba-tiba dan juga tubuh yang masih lemah membuatnya hampir saja terjatuh. Dan refleks membuat Naruto tampak menahan tubuh itu.

Minato terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Naruto sebelum menatapnya, dan Naruto juga tidak kalah terkejut dengan apa yang ia lakukan dan hanya memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

“Terima kasih Naruto…”

“Aku hanya tidak ingin disalahkan kalau Yondaime Hokage sampai terluka saat bersama denganku.” Minato hanya tersenyum tipis dan Naruto pada akhirnya membantunya menuju ke arah Kushina yang ada di dekat sana.

“I—ini dimana Minato?”

“Konoha,” satu kata yang sukses membuat mata Kushina membulat. Ia sendiri juga didatangi oleh Shinigami dan dikatakan hal yang sama dengan Minato bahkan sebelum Shinigami menemui Minato, “enam belas tahun setelah kejadian itu…”

Dan informasi kedua sukses membuat Kushina tersentak. Ia tahu kalau ia hidup kembali, tetapi di masa 16 tahun kemudian? Apa yang terjadi, bagaimana keadaan Konoha? Dan bagaimana keadaan—

“Minato, Na—Naruto dimana dia?” Naruto sedikit menyerengit saat Kushina menanyakannya. Satu hal, bahkan ia tidak menanyakan keadaan Minato terlebih dahulu. Minato sendiri tampak tidak bisa menjawab apapun, namun mata biru Kushina tampak menatap Naruto yang masih diam di tempatnya. Tiga buah garis di setiap sisi pipinya, dan rambut serta mata yang mirip dengan Minato, “Naruto…?”

Entah kenapa ada satu bagian dalam hatinya yang terasa hangat saat perempuan itu memanggil namanya. Namun sekali lagi, sisi hatinya yang lain seolah menolak kehangatan itu saat tangan lembut itu akan menyentuhnya dan ia tampak sedikit mundur tidak tega untuk menepisnya.

“Naruto…?”

“Aku…akan mencari Shizune, anda harus mendapatkan perawatan lagi—“ Naruto tampak mencoba untuk tersenyum dengan mata yang tampak tertutupi oleh poninya. Minato hanya bisa diam dan menatap Naruto yang pergi sebelum menoleh pada Kushina sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh istrinya.

“Ya, dia adalah Naruto—anak kita Kushina…”

“Kenapa ia—“ Minato mengangguk, tidak ingin membiarkan Kushina sampai melanjutkan perkataannya.

“Berikan ia waktu, itu yang dikatakan oleh Kakashi…”

~~~

Setelah menemui Shizune dan membiarkannya merawat Minato dan juga Kushina, Naruto segera berjalan-jalan untuk membantu semua orang di desa yang tampak sudah mulai menerima keberadaannya setelah apa yang ia lakukan saat Invasi Pain. Tidak mungkin ia tidak senang, setelah apa yang ia dapatkan selama 16 tahun.

“Naruto…”

Suara itu membuatnya menoleh dan menemukan Minato yang berada di dekatnya. Sedikit membulatkan matanya, ia tidak mengerti—tubuh Minato masih lemah, lihat saja ia berjalan seolah kapanpun ia bisa terjatuh.

“Apa yang anda lakukan disini?”

“Tidak, hanya bosan saja berada di tenda. Lagipula i—Kushina memintaku untuk menemanimu,” ia tahu kalau Naruto akan menyangkal lagi jika ia mengatakan ‘ibumu’ saat mengatakan Kushina, “ia akan membunuhku kalau aku tidak melakukannya…”

“Kau bisa membuat orang lain ketakutan hanya dengan melihat anda, Yondaime-sama,” benar saja, beberapa orang, walaupun saat itu tidak terlalu terlihat karena penerangan belum sepenuhnya menyala, terkejut melihat seseorang yang mirip dengan Yondaime Hokage mereka. Minato hanya tertawa dan menggaruk kepala belakangnya.

“Tidak apa-apa, aku tidak masalah lagipula aku tidak bisa selamanya bersembunyi bukan? Aku hidup, dan itu artinya aku bisa memiliki kehidupan…bersama dengan keluargaku,” Minato mengatakan kalimat terakhir pada Naruto sambil menatapnya walaupun Naruto tidak menatapnya.



“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Kakashi-sensei,” Minato menoleh pada Naruto yang tampak memberikan jeda pada perkataannya, “aku tidak akan membiarkan Danzou menjadi Hokage. Walaupun tidak mengetahui bagaimana sifatnya, jika Kakashi-sensei mengatakan itu buruk, maka itu sangat buruk.”

“Tidak ada pilihan lainnya, kalaupun Kakashi dicalonkan anggota council itu akan lebih memilih Danzou yang memiliki pengalaman lebih banyak daripada Kakashi.”

“Tidak, masih ada satu pilihan—“ Naruto menghentikan langkahnya begitu juga dengan Minato. Menoleh pada Minato yang ada di sampingnya saat ini, “kau bisa mengambil kembali jabatanmu sebagai Yondaime Hokage, Minato-san…”



“Kalau kau mendengar apa yang kukatakan pada Kakashi, seharusnya kau tahu apa alasanku untuk tidak menerimanya bukan?”

“Jangan menjadikanku alasan untuk tidak melanjutkan apa yang kau inginkan,” Naruto berdecak kesal saat mengingat apa yang dikatakan oleh Kakashi dan juga Minato saat itu, “benar aku marah padamu, tetapi bukan berarti kau bisa mengorbankan semuanya hanya untukku.”

“Karena itu adalah tugas seorang ayah Naruto…”



“Aku tidak pernah mengerti hal itu,” Naruto kembali berjalan dan menghela nafas, “aku tidak pernah memiliki orang tua untuk mengajarkanku perasaan itu. Aku tidak tahu bagaimana tugas seorang ayah, aku tidak tahu bagaimana seorang anak berhadapan dengan orang tuanya, bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa kalau memang kau adalah ayahku.”

Minato hanya tersenyum kecut dan tidak bisa menyalahkan Naruto saat itu.

“Tetapi satu hal yang pasti adalah, bagaimanapun aku membenci atau marah padamu,” Naruto yang sudah berjalan lebih ke depan tampak menatap dari sudut bahunya pada Minato yang masih belum beranjak dari tempatnya, “sampai kapanpun aku tetap menganggapmu sebagai pahlawan. Seorang Hokage, yang paling kuhormati, dan juga menjadi idolaku. Kalau hanya karena aku kau menyerahkan desa pada orang yang bahkan benar-benar kau tahu bahwa ia akan menghancurkan semuanya…”

.

.

.

“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”

~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Blue Flame
Staff RPG
Staff RPG
avatar

Jumlah posting : 49
Join date : 2013-04-23

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Wed Aug 28, 2013 3:09 pm

Rejection
Genre : Family / Angst
Pairing : Uzumaki Family (Parentalship), NaruHina
Rated : T
Naruto © Masashi Kishimoto

.

Chap 6, Shocking Mission

.

Semua orang yang ada di ruangan pertemuan darurat tidak bisa berkata apapun saat melihat seseorang yang muncul begitu saja bersama dengan salah satu kandidat Hokage keenam yang terkuat Hatake Kakashi. Pria berambut kuning dengan mata berwarna biru sapphire, sama seperti 16 tahun yang lalu tidak berbeda sama sekali.

“Yondaime…Hokage?”

“Sampai kapanpun,” Minato dengan santainya duduk di tempat duduk yang tersedia disana. Walaupun saat ini ia hanya mengenakan jaket Jounninnya, tidak mungkin tidak ada yang tahu wajah dari pria itu yang tidak berubah.

“Aku sudah memastikan kalau ia bukanlah peniru, tidak dalam keadaan terpengaruh, dan benar-benar Yondaime Hokage-sama yang sama seperti yang dulu,” sebelum mereka sempat menuduh yang aneh-aneh tentu saja Kakashi segera menjelaskannya, “aku tidak memberikan laporan terlebih dahulu karena harus memastikan semuanya aman.”



“Bagaimana kau bisa masih hidup?”

“Shinigami memutuskan untuk menghidupkanku dan juga Kushina kembali karena suatu alasan, dan disinilah aku sekarang,” Minato menatap kearah anggota council yang masih terkejut, para ketua klan, dan juga tentu termasuk Danzo.

“Bukankah itu bagus? Tsunade tidak bisa memimpin desa saat ini dengan keadaannya. Dan mungkin kau bisa melakukan sesuatu dengan bocah Kyuubi itu. Menahannya, atau lebih baik membunuh—“

BRAK!

“Lanjutkan itu, maka aku akan benar-benar membuatmu menyesal dengan bernafas di tempat yang sama denganku,” semua orang disana tampak tersentak (kecuali Danzo) saat melihat tatapan Minato yang tampak menajam dan juga mengeluarkan aura dingin yang menyesakkan.

“Kau sepertinya sangat memperhatikan anak itu Yondaime-sama, walaupun ia adalah anak yang menarik tetapi tetap saja kita harus mengutamakan keselamatan desa.”

“Dan aku harus membunuh anakku sendiri?” bahkan sahabatnya yang memang tidak pernah diberitahu tentang itu tampak terkejut, selain Shikaku yang sepertinya menyadari kalau Naruto adalah anak dari Minato, “lebih baik aku menghancurkan desa ini daripada aku harus melakukannya.”

“Tunggu, Naruto Uzumaki adalah—“

“Demi tuhan! Satu-satunya klan Uzumaki yang saat itu diketahui hanyalah Kushina, dan apakah kalian buta?! Dia sangat mirip denganku bahkan warna mata dan juga rambutnya!” oke, memang sepertinya mereka sedikit buta. Siapa yang memiliki warna rambut secerah rambut Minato dan mata yang sebiru Minato selain Naruto di desa mereka.

“Aku akan mengambil lagi posisiku sebagai Yondaime Hokage.” Dan pernyataan ini sepertinya sudah tidak perlu dipertanyakan persetujuannya. Terkecuali Danzou yang tampak tidak senang dengan itu. Sementara Kakashi tampak tersenyum dibalik penutup mulutnya mendengarkan hal itu, “aku masih memiliki hak untuk melakukan itu…”

“Aku setuju saja.” Shikaku sekali lagi yang pertama kali berkata dan semuanya mengikuti untuk mengangguk walaupun beberapa diantara mereka tampak tidak mengangguk.

“Kalau begitu semua pemilihan Hokage keenam akan dibatalkan dengan kembalinya Yondaime Hokage—“

“Minimal hingga Tsunade-hime sadar dari komanya,” Minato segera melanjutkan. Karena sebenarnya ia tidak ingin kembali menjadi Hokage di tempat yang sudah memperlakukan anaknya dengan buruk seperti ini, “apakah ada yang keberatan?”

~~~

“Jadi, Mikoto-chan sudah meninggal ya…”

Di tenda yang merawat Minato dan Kushina, tampak sang istri dari Yondaime Hokage itu masih berbaring dengan seorang perempuan lainnya yang berambut hitam panjang—sang istri dari ketua klan Naara—Yoshino Nara.

“Kudengar Naruto sedikit susah untuk menerima kenyataan itu?” Yoshino menatap Kushina yang hanya tersenyum lemah dan mengangguk. Bagaimanapun, tentu saja ia akan merasa sedih jika anaknya yang ada di depannya saat ini bahkan tidak sama sekali mengakuinya, “kudengar dari Shikamaru, anakmu itu adalah anak yang paling keras kepala namun cepat untuk memaafkan.”

“Ia mengatakan pada Minato untuk mengambil kembali jabatannya sebagai Hokage.” Kushina menggaruk kepalanya dan tertawa pelan, “ia mengatakan, walaupun ia belum menerima kami sebagai orang tuanya, Minato tetaplah pahlawan baginya.”

“Aku yakin tidak akan butuh waktu lama untuknya menerima kalian.”

“Kuharap juga begitu,” tersenyum dan mengangguk, kedua orang itu tampak hanya tertawa kecil setelah berbicara seperti itu. Suara pintu tenda yang terbuka membuat mereka mengalihkan perhatian menuju kearah suara dimana tampak gadis berambut indigo panjang mengintip dari pintu tenda.

“Hm? Apakah kau Hinata-chan?”

“H—hai, maaf mengganggu anda Kushina-san,” Hinata membungkuk saat masuk ke dalam ruangan itu. Yoshino melihat kearah jam yang ada di dalam sana sebelum menyadari sesuatu yang sepertinya berada dalam waktu yang tepat.

“Baiklah, sepertinya aku harus menyiapkan makan malam. Hinata, kau menemani Kushina saja kalau tidak ada misi.”

“E—eh tetapi—“

“Aku juga ingin berbicara dengan salah satu teman dari Naruto, kau tidak keberatan Hinata-chan?” Kushina tersenyum pada Hinata yang menyadari kalau senyuman Naruto ternyata menurun dari ibunya. Dengan segera mengangguk dan berjalan mendekati Kushina.

“A—anu, bagaimana anda tahu namaku?”

“Aku kenal dengan ibumu, saat aku mengandung Naruto aku sempat menemuinya saat mengandungmu,” Kushina tersenyum dan mengusap rambut indigo Hinata sambil menatapnya dengan tatapan lembut, “kau sangat mirip dengan ibumu…”

“Te—terima kasih…”

“Jadi, apakah kau punya hubungan spesial dengan Naruto?” Kushina tersenyum penuh arti membuat yang bersangkutan tampak memerah wajahnya dan sangat gugup hingga tidak bisa mengatakan apapun karena panik.

“A—aku, N—Naruto-kun hanya teman biasa. La—lagipula saat ini tidak tepat untuk—“

“Ahahahaha! Kau sangat manis Hinata-chan, bagaimana kalau kulanjutkan perjodohan yang dulu diminta oleh Hiashi ya?” sedikit bercanda, tetapi sebenarnya ia memang pernah mencoba untuk menjodohkan Naruto dan Hinata saat masih dalam kandungan.

“Pe—perjodohan? A—aku dan Naruto…kun?”

“Eh Hinata? Hinata, kau tidak apa-apa? Hinata-chaaan?” Kushina melihat Hinata yang wajahnya sangat memerah saat itu seolah kapanpun bisa meledak.

~~~

“Apa maksud semua ini—“

Naruto menatap kepada orang-orang yang ada di depannya saat ini. Shikaku ayah Shikamaru, Chouza ayah Chouji, Inoichi ayah Ino, Kakashi, Yamato, Shizune, Sakura, dan tentu saja sang Yondaime Hokage.

“Yah seperti yang kau lihat di kertas misi itu, karena apartmentmu sudah diperbaiki kami memutuskan untuk memintamu mengizinkan Yondaime-sama dan istrinya untuk tinggal denganmu,” jangan karena ia mengatakan kalau Minato Namikaze adalah pahlawannya dan ia bisa seenaknya menyuruh seperti itu, “dan sebelum kau mengatakannya, ini adalah misi khusus untukmu jadi tidak bisa dipindahtangankan.”



“Maaf Naruto, kalau kau tidak ingin melakukannya tidak apa-apa. Shikaku dan juga Inoichi yang tiba-tiba menyuruhku membuat misi ini,” Minato tampak tersenyum pada Naruto yang hanya diam sambil menggaruk kepala belakangnya.

“Bisakah kau memberikan waktu untukku berfikir?”

~~~To be Continue~~~

_________________

“I am the sunrise of sunsets—

—and I make love like noon at midnight.”
Back to top Go down
View user profile
Scarlet
Webmaster Away Webmaster
Webmaster Away Webmaster
avatar

Member Title : WB, WB everywhere~
Jumlah posting : 563
Join date : 2013-04-05

PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   Wed Sep 11, 2013 10:30 am

Maaf Mika-Chan... Very Happy


Cerita ini sudah tidak aktif 1 bulan,dan akan dipindahkan segera ke Archives Smile 


Jika ingin melanjutkan membuat karcer,mohon contact Writters Very Happy 


Trima kasih-

_________________
Back to top Go down
View user profile http://midnightacademy.indonesianforum.net
Sponsored content




PostSubject: Re: [ Naruto Fanfiction ] Rejection   

Back to top Go down
 
[ Naruto Fanfiction ] Rejection
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Which Naruto Shippuden Character are you?
» Shia Labeouf To Star In Naruto Live Action Film!
» Did Naruto surpass DragonBall Z
» Whis (DBZ) vs Hagoromo (Naruto)
» [comments] Three Is a Crowd - Mao, Mizushima Hiro & Junno

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Midnight Academy :: Member Creativity :: Karangan Cerita :: Archives-
Jump to: